Ketika Semesta Sedang Bercanda

Semesta

Kadang suatu pertemuan indah hadir tanpa disengaja. Mungkin contoh yang paling simpel adalah ketika kamu makan malam sendiri disuatu tempat makan dan melihat seseorang wanita yang cantik tidak kamu kenali juga sedang makan sendiri diseberangmu. Tidak seperti adegan di Sinetron yang langsung mengajak kenalan. Kadang di dunia nyata hal seperti itu hanya akan membuat kamu seperti tidak punya etika. Waktu berlalu dan tidak ada kata-kata terucap dari mulut kamu dan dia. yang ada hanyalah senyuman syukur kepada semesta atas pertemuan yang indah dan sesaat ini. Dan berdoa agar lain waktu bisa bertemu dalam suatu kesempatan yang pas untuk berkenalan. Namun, jahatnya semesta… Pertemuan itu tidak pernah terjadi walaupun ditunggu hari demi hari, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun. Ya, kadang semesta senang untuk mengajak kita bercanda.

Kamu tahu tentang cosmological coincidence? Itu adalah istilah kebetulan kosmos, sebuah kebetulan yang dirancang oleh alam semesta. Hmm…. Kadang aku bertanya, apakah Pertemuan Aku dan Dia adalah konspirasi dari alam semesta, kebetulan berkenalan dari latar belakang berbeda, bersama dalam satu tempat, dan akhirnya kembali tidak mengenal satu sama lain.

Pertemuan pertama aku dan dia pada bangku pendidikan layaknya teori Big Bang yang rada ngawur. Sebuah kecelakaan cosmik namun menghasilkan alam semesta yang begitu indah. Ya… pertama bertemu dengannya seakan ada sesuatu yang meledak dihati menghasilkan kilauan cahaya ketika aku melihatnya tersenyum dengan sangat indah. Kadang aku heran kenapa banyak orang hobby untuk menatap angkasa dimalam hari hanya untuk melihat bintang, bagiku senyumannya lebih indah dari bintang-bintang itu.

Lagi-Lagi ketika kita menyukai seseorang, mulut terasa terkunci untuk memberitahukan informasi penting bahwa ada rasa yang tidak biasa bermekar dalam hati. Layaknya orang pengecut yang kabur dari medan perang. Dengan perlengkapan layaknya kesatria yang gagah namun selalu kabur jika menghadapi perang itu. ya, akulah sang pengecut yang tidak mau membuat kita berjarak hanya karena ucapan cinta. Selama masa pendidikan itu aku lalui sebagai teman yang sangat mengaguminya. Dan aku menerima itu dengan setulus hati.

Hari demi Hari berlalu begitu indah dengan kehadirannya, namun tidak bisa kutampik bahwa aku sedih dengan berlalunya hari ini artinya hariku dengannya berkurang juga untuk bisa bersama. Karena Waktu yang tidak bisa aku hentikan sehari saja untuk bisa bersamanya lebih lama, sebelum nanti berpisah dengannya saat kelulusan pendidikan ini. Dia berasal dari provinsi yang jauh dari tempatku. Apakah dua hati ini akan bisa bersama…? ya pertanyaan itu terus berputar dalam kepalaku. Bahkan aku pernah merencanakan suatu saat nanti ketika semuanya siap aku akan datang lagi ketempatnya untuk bertemu keluarganya. Ya… aku pernah memohon kepada semesta untuk mengatur pertemuan itu.

Teringat dulu saat aku dan dia makan malam bersama di kota itu. Lampu-lampu tempat makan itu seakan menjadi cahaya bintang yang indah. Bahkan senyumannya saat itu seakan menjadi keajaiban dunia yang tidak tertulis dibuku. Ketika kita bersama dengan orang yang kita sukai entah kenapa waktu terus berjalan begitu cepat. Seakan semesta tidak suka untuk pertemuan kami lebih lama lagi. Atau apakah dia adalah pengendali waktu yang dapat merubah waktuku lebih cepat dan lebih indah. Ayam goreng yang aku makan terasa begitu sedap. dan baju putih yang ia kenakan begitu sangat indah. Bagiku itu adalah salah satu malam yang paling luar biasa. Aku bisa melihat keindahan semesta sekaligus dalam suatu tempat didepanku dan didekatku. Andai saja aku punya alat yang bisa membuat lorong waktu, aku ingin kembali kepada malam itu untuk melihat senyum dan tawanya sebentar saja. dan kembali kemasa sekarang dengan penuh keikhlasan

Hari demi hari berlalu, dan sampailah diujung semester pendidikan. Aku merasa bisa lebih dekat denganya. tugas kami yang semakin banyak membuatnya merasa harus bercerita denganku sebagai temannya. walaupun mata ngantuk untuk membalas chat nya yang kadang malam-malam dan terkadang ada beberapa pertanyaan yang aku tidak begitu mengerti, akhirnya aku harus mempelajari itu dari google untuk bisa terlihat keren saat membalas chat dengannya. Dia adalah wanita yang cerdas sehingga aku harus berteman dengan google untuk bisa berdiskusi dengannya.

disuatu curhatan dia dengan ku via Whatsapp. Aku memotong bahasan kami dengan bertanya, “kamu percaya dunia pararel gak?”.

“Dunia pararel itu apa”,jawabnya.

Aku melanjutkan chatt “katanya di dunia parrarel terdapat orang seperti kita, sederhananya adalah dunia pararel terdapat kita namun melakukan kebalikan apa yang kita lakukan didunia kita sekarang. Jangan jangan pada dunia pararel itu kita berdua sedang bersama dan bahagia yah sebagai dua orang yang memiliki cinta satu sama lain”.

“hahahaha, ngak mungkinlah ada dunia kaya gitu dan masa iya aku jatuh cinta dengan kamu didunia itu, hahahaha”. dia tertawa tanpa dosa pada chatt itu.

Dia melanjutkan chatt “pada dunia sekarang juga gak mungkinkan aku jatuh cinta sama kamu ? hahaha”

“hahahaha, ya gak mungkinlah” aku menjawab pertanyaan dia dengan tulisan bahagia namun kenyataanya menangis… huhuhuhuhu.

Pada diskusi itu aku menyadari bahwa aku bukanlah seseorang yang dia nantikan. Aku bukanlah seseorang yang bisa membuat dia merasa waktu terus berputar. Aku bukanlah orang yang membuat dia merasa bahwa lampu-lampu tempat makan itu menjadi bintang yang indah. dan aku bukanlah seseorang yang membuat dia merasa malam tempat kami makan dulu adalah malam yang luar biasa dengan keindahannya. dan aku bukanlah seseorang yang membuat dia merasa harus melintasi lorong waktu untuk hadir ditempat itu hanya untuk melihatku. Bukan salah dia, hanya saja aku lupa cara menggunakan cermin.

dan sampailah kami pada suatu perpisahan akhir pendidikan itu. Dengan perpisahan itu aku meninggalkan kenangan indahku dengannya. Aku meninggalkan rasa yang pernah ada itu dalam sunyi karena hanya aku saja yang tahu semua rahasia besar itu. Dan rencanaku untuk bisa bertemu keluarganya saat aku sudah siap harus aku kubur dalam-dalam. biarlah kota itu menjadi saksi bisu bagaimana cara semesta bercanda denganku.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *