Bumi dan Bulan

catatansenja

Aku memulai ketikan baru kali ini pada malam 11 februari 2022. Dipojokan kamar dan didekat jendela yang tirainya aku buka. Terlihat cahaya bulan yang terang menggangu fokusku. Rasanya cahaya bulan itu menghipnotis aku untuk terus memandanginya. Cahaya bulan yang indah itu seakan menebarkan sejuta keindahan kepada bumi yang sangat sayang jika harus aku lewatkan.

Malam ini terbesit senyum kecil di wajahku. Tiba tiba aku teringat tentang seseorang yang sama indahnya dengan bulan itu. Tunggu dulu,,, kayaknya aku salah,,, maksud aku seseorang yang lebih indah dari bulan itu. Seorang wanita yang senyumannya menenangkan bagi siapa saja yang memandangnya. Tutur katanya yang lembut serta baik akhlaknya. laksana cahaya bulan yang meneduhkan untuk bumi. Cahaya bulan yang dingin dan menenangkan itu seakan memberi harapan pada bumi. Harapan untuk terus menerus merasakan kebahagiaan itu. Meskipun akhirnya bumi itu akan terbakar oleh teriknya matahari.

Tahun itu saat aku masih menempuh pendidikan diperkuliahan. Saat jam perkuliahan selesai hari itu. Kami memutuskan untuk menonton film disebuah mall di kota itu. Saat itu … Dia yang indah ikut juga untuk menonton bioskop. Kurang lebih 8 orang yang akan pergi ke bioskop itu. Entah kenapa aku sangat bahagia karena ada dia disitu. Seakan aku baru pertama kali merasakan keseruan dan keindahan menjadi satu di dalam bioskop nanti. Kami memutuskan untuk menontonnya sewaktu sore hari.

Saat aku melihat dia datang di mall itu. Tiba-tiba keheningan tercipta di semesta raya ini. Hatiku bergumam “masyaallah, sungguh indah ciptaanmu Tuhan”. Aku masih ingat saat itu dia menggunakan baju berwana biru. Entah kenapa baju biru itu sangat indah saat dia kenakan. Kami memutuskan untuk menonton film horror waktu itu. film yang lumayan hits pada zamannya menceritakan seorang suami istri yang di ganggu oleh hantu berbaju suster yang dulu membunuh anaknya dengan cara ditenggelamkan. Kok tega yah ,, kan bisa dikasih racun biar gak tersiksa anaknya.. eh kok aku kaya psikopat.. canda deng.

FIlmnya mulai sebentar lagi. Sebelum masuk kami diskusi dulu. Diskusi tentang kami ingin duduk dinomor berapa. Boom… alangkah bahagianya aku saat tahu dia memilih nomor tempat duduk yang bersebelahan dengan aku. Bagaikan cahaya rembulan yang memberikan aku pengharapan tentang kebahagiaan. Berjalan sepanjang lorong bisokop itu seakan membuat waktu menjadi slow motion. Ala-ala adegan cinematik di film, kepalaku terus menyanyikan lagu romantis.. ya saat itu dikepalaku menyanyikan lagu indonesia raya…eh loh… heh kenapa kamu ketawa bacanya?? indonesia raya itu bagus loh lagunya… eh aku bicara sama siapa?? oke lanjut….

Tibalah saat filmnya mulai. Entah kenapa fokus perhatianku selalu terpecah. Melihat layar bisokop dan sesekali melihat keindahan alam semesta di dekatku. Saat itu dia duduk disebelah kiriku. Matanya yang berbinar saat menyaksikan filmnya menambah kesan indah digelapnya ruangan itu. Sekali lagi aku tegaskan, dia seperti rembulan di gelapnya bioskop itu. Memberikanku pengharapan tentang sebuah rasa suka yang mungkin bisa aku sebut dengan kata cinta. Entah kenapa, hampir satu jam aku dibioskop itu seakan terasa hanya beberapa menit saja. Benar kata orang, ketika kita bersama orang yang kita suka. Waktu seakan cepat berlalu.

Film nya pun selesai. Saat keluar dari lorong bioskop itu dia bercerita tentang film nya. Aku hanya bisa tersenyum karena rembulanku tidak ada lagi didekatku. Saat itu ingin sekali aku menggenggam tangannya terus bilang “aku tidak ingin jauh dari kamu”… tapi… plak kepalaku dihantam oleh ingatan tentang larangan bersentuhan dengan yang bukan muhrim.

Hari demi hari berlalu setelah kami menonton bioskop itu. Tapi, entah kenapa aku selalu terbayang akan wajah dan senyumannya. suaranya yang lembut menenangkan hatiku. Terus aku bertanya dalam hati. Apakah mungkin suatu saat aku bisa bertemu lagi dengan orang seperti dia? apakah ada wanita lain seperti dia? Hari demi hari aku lalui dengan pikiran penuh pertanyaan seperti itu.

Pernah suatu hari aku putuskan untuk menunggu waktu yang tepat untuk bilang bahwa ada rasa yang tidak biasa di hatiku untuknya. Tentang pengharapan yang aku lihat di binar matanya. Tentang frequensi kedamaian yang aku tangkap disuaranya. Tentang bumi yang selalu ingin dekat dengan bulan. Keberanian aku kumpulkan untuk membicarakan itu dengannya. Membicarakan sebuah rencana besar tentang bagaimana aku dan dia bisa bahagia di hari tua. Aku hanya ingin memberitahukannya saja tentang rasaku kepadanya. Aku tidak berniat untuk melakukan hubungan diluar syariat agama islam.

Persiapanpun sudah matang… Hari itu aku sudah ingin membicarakan tentang rasa itu. Namun, aku terkejut saat tahu dia sudah jadian sama kaka tingkat diakmpus kami. Hari itu bumi terasa terbakar oleh teriknya matahari. Instagramnya yang sangat indah itu tergores tulisan alamat link instagram pacar di bionya.

Apakah aku terlambat? apakah waktunya tidak tepat? pertanyaan itu selalu berputar dikepalaku. Ternyata Jawabannya adalah karena aku tidak pantas untuknya. Aku lupa… Aku hanyalah Bumi yang bisa melihat keindahan nya saja. Sepertinya terlalu berlebihan untukku yang mengharapkan biasan cahaya seperti dia. Layaknya pelangi yang merupakan biasan cahaya dari partikel hydro meteor. Pelangi yang hanya bisa aku lihat namun sukar untukku gapai… siapalah aku gumamku.

Rasa yang aku pikirkan secara matang itu harus aku kubur dalam-dalam. Dia belum pernah tahu sebuah rahasia yang aku simpan itu. Sampai detik ini aku belum pernah mengutakaran perasaan itu karena aku tahu siapa diriku. Siapalah aku yang mengharapkan rembulan indah sepertinya. Kami menjadi teman baik sampai sekarang tanpa dia tahu ada rasa yang aku simpan rapat-rapat. Sang Bumi yang pada awalnya mengira Rembulan memberikannya pengharapan tentang hadirnya sebuah cinta kini berganti terbakarnya harapan itu oleh teriknya matahari. Pada akhirnya sang bumi itu hanya bisa melihat keindahan bulan itu digelapnya malam hari.

Hari ini tanggal 11 februari 2022 sudah menunjukan pukul 11.30 malam. Ditengah dinginnya malam ini tidak sengaja air mataku terjatuh. Airmata pengikhlasan sebuah rasa yang setengah mati aku simpan rapat-rapat. Tidak seperti kisah jainudin dan hayati yang memiliki rasa yang sama. Cinta tidak terbalas kadang lebih menyakitkan. Karena kita tidak bisa memaksa hati yang lain untuk bersama kita. Keindahan yang hanya dirasakan oleh sebelah pihak, tenggelam dalam kesunyian, dan terjebak dalam keegoisan.Aku tutup gorden itu karena entah kenapa cahaya bulan itu sekarang membuat aku teringat kepadanya. sekarang saatnya aku mengakhiri ketikan pada artikel kali ini. Kalau dia membaca artikelku ini, aku ingin bilang kepadanya “Berbahagialah selalu, semoga tuhan selalu menjaga senyum di wajahmu itu”.

sampai jumpa dilain kesempatan semuanya. salam hangat…..

-catatansenja.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.