Api Unggun Harapan

catatansenja

Adakalanya rindu membawamu kembali pada waktu yang lampau. Kembali hanyut ke dalam kenangan yang tidak bisa kembali. Tentang misteri sang waktu yang terus berjalan maju tanpa ada kesempatan untuk kembali. Hanya memorial yang menggema disetiap detakan jantung. Kadang ketika kita ingin melupakan kenangan itu, entah kenapa kenangan itu terus melekat dalam hati. Menghantui setiap gerak tubuh di semesta ini.

Malam ini, pertengahan bulan maret 2022 seperti biasa aku menuliskan catatan kedalam jurnal onlineku ini. Kali ini aku menuliskan ditempat favorite, disebuah caffe tengah kota tempat aku berdomisili. Dengan secangkir hot cappuchino favoriteku, aku mencoba merangkai beberapa kata untuk memulai tulisanku kali ini. Biasanya ketikanku ini berasal dari kumpulan puisi yang sebelumnya aku tulis di note handphne. Puisi-puisi itu aku rangkai menjadi sebuah kisah yang memiliki alur. Ditengah lamunanku untuk memulai ketikan ini. Tidak sengaja aku mendengar obrolan anak SMA yang nongkrong dibelakang tempat aku duduk. Mereka membicarakan tentang keseruan kegiatan api unggun disekolah mereka.

Obrolan mereka seakan menyeret ingatan aku kembali ke tahun itu. Tahun dimana aku masih menggunakan almameter kuliah. Kegiatan yang juga bertepatan pada pertengahan bulan maret di tahun itu. Pada waktu itu kami mengadakan kegiatan LDK (latihan dasar kepemimpinan). Kegiatan LDK itu diwajibkan di kampus kami untuk mahasiswa yang baru. Pada saat itu aku tergabung dalam panitia pada acara tersebut. Entah kenapa aku semangat sekali mengikuti kegiatan itu. Mungkin karena dia yang aku suka sejak awal masuk kuliah juga tergabung dalam kepanitiaan kegiatan tersebut.

Entah kenapa pada saat kegiatan itu aku merasa bisa jadi lebih dekat dengannya. Kami mengobrol banyak hal, tentang kuliah, mahasiswa baru, kehidupan, bahkan hal random seperti bergosip tentang dosen killer di kampus kami. laksana senja yang memberikan seluruh keindahannya kepada wanita itu. Senyumannya yang meneduhkan ketika aku dekat dengannya. Kala itu aku terus bertanya dalam hati, “apakah aku bisa bisa bersamanya sampai hari tua, berjalan bersama di bawah langit semesta ini dalam ikatan yang sah…?”.

Kami menjadwalkan acara api unggun pada saat hari kedua kegiatan tersebut. Setelah seharian berpanas-panasan di lapangan dekat dengan kampus kami. Tibalah kegiatan api unggun itu diwaktu malam. Pada saat itu mahasiswa baru dan panitia lain terpaksa menunggu sedikit lebih lama dalam gelap. Karena aku dan beberapa rekan lain kesulitan menghidupkan api unggun itu, hahaha. Tiba-tiba keilmuan pramukaku hilang begitu saja. Entah kenapa api nya sangat sulit untuk hidup. pada saat gelapnya malam dan tepukan peserta karena nyamuk banyak itu, aku mencoba mencari dia yang indah. Namun aku tidak menemukannya, “dimana dia ?” gumamku. Syukur deh jika dia tidak ada disini. Entar dia ilfil lagi denganku, gara-gara aku tidak ahli dalam menghidupkan api unggun. eh tunggu emang ada hubungannya yah ahli menghidupkan api dalam percintaan?. bentar aku coba renungkan dulu sebelum melanjutkan menulis……………… setelah aku riset, aku baru tahu menghidupkan api adalah skill dasar agar cowo terlihat keren.

Setelah berusaha dan berdoa, akhirnya kami berhasil menghidupkan api kampret itu. Tunggu,,, jangan ngomong kasar wahai penulis artikel ini. kasian para pembacanya kaget…. Hawa hangat mengelilingi kami. cahaya oren bercampur merah mewarnai gelapnya malam itu. Ketika panitia lain lanjut dengan kegiatannya bersama peserta. Aku melihat dia yang indah berdiri di belakang peserta LDK itu. Cahaya api unggun itu menambah kesan indah pada dia. Namun,,, Entah kenapa wajahnya murung dan cemberut. “Dia kenapa”, gumamku. Ingin rasanya aku mendekat padanya terus berucap, “Dengarkan aku, Manusia pasti berubah secara fisik. Tapi, bagaimanapun keadaanmu. Kamu tetap indah sebagaimana adanya kamu”. Tunggu, kayaknya itu aneh deh tiba-tiba langung mengucapkan itu, untung saja saat itu aku tidak mengucapkan kalimat bodoh itu. Mungkin lain kali aku akan mengucapkan kalimat itu disaat waktu yang tepat, entah apakah waktu itu akan tiba atau tidak.

Malam itu pandanganku selalu terarah kepadanya. Konon katanya cinta itu mengalihkan dunia. Ternyata benar… Meski ragaku seolah sibuk pada urusan lain, namun disetiap kesempatan, pandanganku selalu tertuju padanya. Dibawah langit berbintang dan didekat api unggun yang menyala. Puisi-puisi indah yang menggambarkan betapa indahnya dia malam itu, seakan tertulis di alam bawah sadarku. Malam itu, aku tidak berani mengucapkan sepatah katapun kepadanya tentang keindahan yang aku lihat sinar matanya yang memantulkan cahaya api unggun itu.

Andai saja api unggun ini bisa menghantarkan harapanku kelangit agar bisa terus bersama dia. Andai saja aku bersama api unggun itu bisa membuat semacam mantra untuk merubah takdir kami. Aku ingin merubah takdir itu, untuk bisa selalu bersamanya. Dalam linimasa ini, dalam ruang waktu ini, sampai akhir hayat, dan bertemu di dimensi keabadian. Andai api unggun kala itu dapat menampung seluruh harapanku, pastilah semua orang yang ada disekitar api unggun itu akan terbakar karena banyaknya doa yang terucap dalam hatiku. Sontak aku tersadar… itu hanyalah api unggun yang menyala sebentar terus menghilang ditelan gelapnya malam.Muncul karena kayu yang mengorbankan dirinya agar api itu menyala dengan bahagia, lantas setelah kayu itu habis… Api itu tersadar bahwa dia tidak sanggup hidup tanpa kayu yang tidak dia perdulikan tadi. Dimalam itu… bintang-bintang menyaksikan dari langit tentang manusia pengecut sepertiku yang tidak berani jujur kepada wanita indah seperti dia.

Pada saat acara api unggun itu, kami lalui begitu saja. Tanpa ucapan dariku untuknya. Tanpa tegur sapa untuk sekedar menanyakan bagaimana kabarnya hari itu. hanya bisa melihat dari kejauhan dan bertanya dalam hati, “kamu kenapa cemberut, semoga bahagia selalu ya kamu”. katanya cinta sejati ketika kita bertemu dalam suatu frequensi yang sama. Aku mencari- cari frequensi itu. Entah dia yang berpindah frequensi terus. atau memang aku yang tidak pantas satu frequensi dengan dia. kami begitu dekat dalam kepanitiaan ini. Entah kenapa aku tidak menemukan sinyal satupun tentang kebahagiaan dia jika dekat denganku. Aku tidak menemukan satupun isyarat yang raut wajahnya tuliskan tentang sebuah rasa yang sama denganku.

Bagiku… Malam api unggun kala itu bukan hanya tentang formalitas sebuah kegiatan, tapi lebih dari itu. Malam itu adalah rangkaian puisi indah yang tertulis disetiap kembusan angin yang menyalakan api itu. Puisi tentang harapan harapan aku untuk bisa dengan dia. Berharap untaian doa ini akan diaminkan pemilik alam semesta ini. Seperti yang aku bilang tadi, malam itu kami lalui begitu saja. Terasa sunyi dalam keraiaman. Benar saja, kami hanyalah dua insan yang tidak sengaja bertemu dalam linimasa ini, hanya berpapasan sebentar dan berlalu begitu saja tanpa sebuah komitmen untuk saling menjaga satu sama lain.

Setelah acara api unggun itu selesai, kami para panitia memilih tidur diluar ruangan beralaskan sebuah tikar. Aku melihat keindahan bintang malam itu. Kamu tahu north star? itu adalah bintang utara. Sebuah bintang yang menjadi petunjuk para pelaut kuno sebelum adanya kompas untuk menunjukan arah utara. Bagiku dia seperti north star itu. Dia seakan tujuan dari cintaku. sepertinya aku akan bahagia jika bisa hidup bersamanya. Namun sekali lagi,,, aku tidak mampu menemukan notice sinyal dari dia yang mengisyaratkan ingin juga denganku. Sepertinya kesunyian rasa ini adalah jalan yang tepat untuk aku tempuh. Sebelum semuanya jadi kacau hanya karena ucapan cinta yang tidak mau dia dengar. Malam itu dibawah sinar bintang aku tertidur bersama semua harapanku dengan dia.

Sreeeet…... dan kembali aku ke waktu yang sekarang… heheheh.. setelah memorial ini terus menghantuiku…. kita harus ingat… bahwa hidup harus terus maju kedepan. Pantaskan saja diri ini… Jika memang ada jalan, percayalah tuhan pasti mempertemukan 2 hati itu dengan jalan terbaik. Kalau boleh jujur,, sampai sekarang aku tidak punya hubungan dengan siapa-siapa karena masih menaruh harapan itu, yang dulu aku ucapkan. Disaksikan oleh bintang bintang dan api unggun kala itu. Kata orang mencintai yang seumuran itu sulit, yang cowo sibuk mengejar karir, yang cewe sibuk mengejar umur.

Secangkir Cappuchinoku pun habis. Sekarang saat nya aku akan berberes-beres untuk pulang. Sebelum aku tutup ketikan kali ini dan mematikan laptop kesayanganku. Izinkan aku menuliskan beberapa kalimat yang aku rangkai….“Cinta adalah isyarat yang ditangkap oleh dua hati. Bersama dalam suatu frequensi yang dijanjikan oleh pemilih semesta. Bersama dalam kalimat suci…Jika sinyal itu ada untuku,,,,berikanlah aku sinyal lain karena ketidak mampuanku menangkap sinyal sebelumnya yang kamu kirimkan”.

Sampai jumpa dilain kesempatan semuanya…

-catatansenja.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.