Apakah Pembelajaran Dengan Kerja Kelompok Itu Efektif ?

kelompok

Mungkin sebagian besar orang akan mengatakan kerja kelompok itu adalah model pembelajaran untuk mengajarkan kerjasama dengan team, bejalar menekan ego masing-masing. Hmmm. wajar sih presfektif seperti itu. Namun, paradigma seperti itu baru bisa berjalan dengan baik ketika kelompoknya memiliki kapasitas yang sama juga. Maksudnya kapasitas disini bukan serta merta memiliki arti harus “pintar semua”, melainkan harus rajin semua sehingga pembagian beban kerja bisa merata dan arti kerjasama bisa terlaksana dengan baik.

Problem yang sering terjadi pada kerja kelompok adalah kerajinan dari setiap kelompok itu tidaklah sama. Ada kelompok yang rata-rata anggotanya rajin, ada juga kelompok yang rata-rata anggotanya malas. Sehingga beban kerja nya akan lebih memprihatinkan pada kelompok yang rata-rata anggotanya malas.

Kelomok yang rata-rata anggotanya malas membuat sebagian anggotanya bekerja lebih keras lagi. Kita misalkan saja 3 dari 10 orang kelompok harus rela menghabiskan waktunya lebih banyak untuk mengerjakan tugas kelompok. Mengetik, Print tugas, konsultasi kepada pendidik, mencari referensi, belajar untuk presentasi dilakukan oleh sebagian kecil kelompok itu. Sementara yang lainnya hanya mengerjakan tugas yang diberikan dengan alakadarnya, ngetik tidak sesuai deskripsi, teori luput dari permintaan, referesni tidak jelas. Sehingga sebagian kecil anggota yang rajin tadi harus merombak lagi tugas itu dan mencari lagi referensi nya sampai rela tidak tidur lebih awal. Bahkan harus rela untuk konsultasi untuk tugas itu kepada pengajar bolak balik hanya untuk kelompoknya.

Bahkan terkadang ada kasus diamana team sedang mengerjakan kerja kelompok, tetapi rekan yang malas ini malah jalan-jalan keluar kota atau malah pulang kampung. Sehingga kerja kelompok ini luput dari makna yang sesungguhnya yaitu kerjasama. Terlebih rekan yang malas ini tidak mau dikasih tahu. Jika dikasih tahu, maka dia akan marah-marah seolah menjadi korban.

Kamu tahu tidak apa yang berbahaya dari sikap malas itu jika dibiarkan. saat kerja nanti, entah itu kerja sendiri atau ikut dengan orang lain semisal kantoran. orang yang malas ini akan menjadi parasit untuk rekan kerjanya. Tidak mau berusha belajar memperbaiki diri, bisanya hanya meminta pertolongan dengan orang lain, dan pekerjaannya sendiri tidak beres. Terlebih jika dia memiliki usaha sendiri justru lebih berbahaya lagi, karena dia akan terbiasa untuk menyuruh-nyuruh orang lain, sehingga sering untuk dibenci oleh bawahan.

Dan sudah menjadi rahasia umum jika muncul quotes “Kerja keras tidak merata, namun nilai sama rata”. Bahkan ada dibeberapa kasus kita ambil contoh Praktek kerja lapangan (PKL), Yang malas dilapangan dan membuat laporan ini bahkan mendapat nilai tinggi. Kenapa? karena dia pandai untuk mencari muka. Ketika petugas lapangan datang dia dengan semangatnya untuk kerja, ketika petugas nya pergi dia santai kembali bahkan bisanya hanya menyuruh-nyuruh rekannya yang sudah dari tadi bekerja seolah dia menjadi leader.

Saya merasa kasihan terhadap mereka yang sudah bekerja keras namun dikasih pengahrgaan yang sama bahkan kurang dari mereka yang malas. Sehingga mereka yang malas ini seperti tidak punya dosa karena dianggap biasa saja. waktu, keringat dan usaha dari mereka yang rajin itu terasa sia-sia. Namun, mau bagaimana lagi…. Jika mereka yang rajin itu tidak mengerjakan tugas, artinya kelompoknya tidak dapat nilai bahkan dia yang disalahkan. Jika dikerjakan, dia bahkan tidak dianggap terhadap keberhasilan kelompoknya. sungguh dilema memang.

Lantas bagaimana cara menangani kerja kelompok ini agar lebih efektif…?

Alangkah lebih baiknya pihak pengajar untuk memastikan kinerja kelompok ini bagaimana. Kalau saya pribadi tidak akan menggabungkan kelompok yang isinya siswa rajinnya sedikit dengan siswa malasnya banyak. Sehingga tidak ada ketimpangan disitu. Terlebih hal tersebut akan membuat mereka yang malas, mau tidak mau harus bekerja sebagaimana kelompok pada umumnya. sehingga mereka yang malas dapat belajar untuk mengetahui mana yang salah dan mana yang betul dari tugas yang mereka dapatkan.

Pihak pengajar sebaiknya bisa memantau lagi kinerja siswanya untuk menggabungkan pada sebuah kelompok, bukan berdasarkan nilai. Kenapa? karena nilai itu bisa didapat dari cara mencontek. sangat mudah sekali untuk mendapatkan nilai tinggi, dengan berjalan ke Wc dan balik membawa catatan. Bahkan ada yang membuat catatan di dinding. Cara mencontek paling Jenius yang pernah ada adalah dengan kerjasama dengan teman disebelahnya menggunakan kode-kode yang orang lain tidak tahu. tidak heran kenapa dia yang pintar bisa kalah nilai dengan dia yang jarang aktif saat pembelajaran di kelas.

Tidak heran ketika ditanya pada saat pembelajaran, yang nilainya rendah lebih bisa menjawab daripada dia yang nilainya lebih tinggi karena mencontek. Dan saya merasa kasihan melihat sistem pendidikan indoensia lebih menghargai nilai daripada kejujuran.

Kamu tahu tidak, team saat kerja nanti tidaklah sama seperti saat di perkuliahan. mereka terdiri dari kumpulan orang orang rajin dan berpengalaman. Sehingga jika pemalas itu tetap membawa kebiasaan buruknya selama perkuliahan, dia akan tersingkirkan oleh mereka yang rajin. Pekerjaan saat kerja nanti mengandalkan kerjasama yang baik, jika anda lemot maka anda akan dikeluarkan oleh team karena dianggap “Tidak Berguna”.

Saya tidak mengatakan mereka yang malas itu sulit untuk sukses,,,, tapi mereka yang sukses itu selalu rajin dan kreatif dalam menjalankan tugasnya, jatuh bangit lagi, gagal coba lagi.

Dari saya founder catatansenja.com untuk pendidikan indonesia, semoga bisa menjadi lebih baik lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *